Friday, 28 April 2017

STHANA-NYA DEWA WISNU MENURUT NAWA SANGA

" OM SWASTIASTU "

Dewata Nawa Sanga adalah sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin, ini tertera dalam konsep agama Hindu di Bali. Sembilan penguasa tersebut merupakan Dewa Siwa yang dikelilingi oleh delapan aspeknya. Diagram matahari bergambar Dewata Nawa Sanga ini, ditemukan dalam Surya Majapahit yang merupakan lambang kerajaan Majapahit sendiri. 

Nah, yang ingin saya bahas kali ini adalah isi yang menjelaskan bahwa dalam lambang ini Dewa Wisnu 
merupakan penguasa arah utara (Uttara), yang bersenjatakan Cakra Sudarshana, wahananya (kendaraan) Garuda yang bernama Kasyapi, ShaktiNya Dewi Sri/Laksmi, aksara sucinya "A", dilambangkan dengan warna hitam, dan di Bali Beliau di puja di Pura Batur. Mungkin masih ada orang yang belum mengenal pura ini kan? Yuk kita bahas agar lebih mengenal tentang Pura Batur.


Pura Batur lebih dikenal kebanyakan orang dengan Pura Ulun Danu Batur, yang terletak pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut tepatnya di Desa Kalanganyar Kecamatan Kintamani di sebelah Timur jalan raya Bangli-Singaraja. Pura ini menghadap ke barat yang dilatarbelakangi Gunung Batur dengan lava hitamnya serta Danau Batur yang membentang jauh di kaki Gunung Batur, melengkapi keindahan alam di sekeliling pura. 



gambar Pura Ulun Danu Batur

Sebagai stana Dewa Wisnu dan Shaktinya, dalam konsep masyarakat Batur yang lebih dikenal dengan sebutan Bhatari Dewi Danuh, Pura Ulun Danu Batur memiliki sejarah yang sangat menarik, baik yang berkembang secara turun-temurun, sebagai cerita rakyat yang hidup di Batur serta masyarakat pemuja di sekitarnya, mau pun sebagaimana termuat dalam beberapa babad.


Mari kita simak sekilas tentang sejarah Pura Ulun Danu Batur, sebelum letusan Gunung Batur yang dahsyat pada tahun 1917, Pura Batur sebelumnya terletak di kaki Gunung yang tepatnya berdiri di sebelah tepi barat daya dari Danau Batur. Karena letusan Gunung Batur yang merusakkan 65.000 rumah, 2.500 Pura, dan ribuan kehidupan. Tetapi keajaiban menghentikannya lelehan lava pada kaki Pura. Orang-orang yang melihat semua ini, beranggapan ini suatu pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh Pura kecuali “Pelinggih” yang tertinggi, tempat pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danuh. Hal itu membuat warga desa tetap bersikukuh untuk menempatkanNya di tempat yang lebih tinggi. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh itu dan membangun kembali Pura Batur.


Beberapa lontar suci Bali kuno menceritakan asal mula Pura Batur yang merupakan bagian dari “Sad Kayangan”, enam kelompok Pura yang ada di Bali yang tercatat dalam lontar Widhi Sastra, lontar Raja Purana, dan Babad Pasek Kayu Selem. Pura Batur juga dinyatakan sebagai Pura “Kayangan Jagat” yang di sungsung oleh masyarakat umum.

Dalam Lontar Usaha Bali diceritakan secara mitologis bahwa Gunung Mahameru di India sangat tinggi hampir menyentuh langit. Kalau langit sampai tersentuh maka hancurlah alam ini. Karena itu lah Sang Hyang Pasupati kemudian mengambil puncak Gunung Mahameru di India dengan kedua tangannya. Bongkahan Gunung Mahameru itu diterbangkan ke Bali. Bongkahan yang digenggam dengan tangan kanan beliau menjadi Gunung Agung. Sedangkan bongkahan pada tangan kiri beliau menjadi Gunung Batur. Di Gunung Agung lalu distanakan Sang Hyang Putra Jaya (Sang Hyang Maha Dewa). Sedangkan di Gunung Batur distanakan Dewi Danuh. Dewi Danuh itu tidak lain adalah Shaktinya Dewa Wisnu. Dewa Wisnu adalah manifestasi Tuhan sebagai dewa air untuk kemakmuran makhluk hidup. Lontar yang menyebutkan keberadaan Pura Batur ini antara lain Lontar Usaha Bali, Lontar Kusuma Dewa, Lontar Raja Purana Batur. Menurut lontar tersebut, Pura Batur adalah Pura Sad Kahyangan yang tergolong Kahyangan Jagat untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Kemakmuran. Kahyangan Jagat adalah tempat pemujaan Tuhan bagi semua umat Hindu.

Nah cuma sebatas itu informasi yang saya dapat kumpulkan terkait pura ini, oh iya, piodalan pada Pura Ulun Danu Batur jatuh pada Purnama Kedasa. Jadi jangan lupa ya, untuk tangkil pada piodalan agar dapat melakukan pemujaan kepada manifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu dan ShaktiNya. Dan ingat jikalau kalian melewati Pura Ulun Danu, sempatkan waktu untuk berhenti sejenak, mencangkupkan tangan sebentar di "Pengayatan" yang berdiri di depan pura memohon keselamatan dalam perjalanan. 




gambar Dewa Wisnu, dan Dewi Laksmi/Sri, menunggangi Garuda Kasyapi

Disadur dari berbagai sumber

oleh  Gede Laksana


" OM SHANTI, SHANTI, SHANTI, OM "





CINTA YANG TERUSIK

"OM SWASTIASTU"

Pagi ini setelah selesai bersih2 dan maturan, kubawa perlengkapan menggambarku lalu memacu motor ku ke pantai. Yah....pantai memang tempat favoritku menenangkan pikiran, karena disini begitu tenang dan selalu memberikan inisiatif dan motivasi kepadaku. Hampir sejam aku disana tiba-tiba dua orang perempuan mendekatiku, yang ternyata salah satunya adalah temanku si Calya dan satunya lagi aku tak kenal. Calya memberi salam dan memulai percakapan...

Calya : wah ni anak dicariin ternyata disini, sibuk ya Ndi? aku mau minta tolong nih (sambil keduanya duduk di dekatku)

Indi : ga juga tuh, emang kenapa Lya? kayaknya gawat banget hehe (sambil tertawa garing)

Calya : nih temanku Ayu, dia mempunyai permasalahan dalam keluarganya dan ingin meminta saranmu, tlg bantu deh, biasanya kan kamu banyak punya ide tuh (sambil dia menunjukkan jempol tangan kanannya).

Indi : waduh aku ga berani janji yach, tapi tetap akan ku usahakan sebisa mungkin, maaf klo boleh saya tahu mbok Ayu mempunyai permasalahan apa?

Ayu : (memulai ceritanya sambil menangis) begini ceritanya, saya mempunyai rumah tangga yang sudah berlangsung hampir 6 tahun, dan kita dikarunia 2 orang anak laki-laki, tapi sekarang rumah tangga saya hancur karena suami saya ternyata memiliki hubungan dengan perempuan lain, yang sekarang sedang hamil muda, jadi dia sekarang menikahi wanita tersebut, mengetahui hal itu ga tahu saya harus berbuat apa, pingin rasanya kembali ke rumah orang tua saya.

Indi : (dengan nada selembut mungkin aku mulai berkata) saya ikut terharu dengan apa yang mbok rasakan sekarang, kehilangan seseorang yang kita cintai memang sangat menyakitkan, tapi mbok harus yakin bahwa itu semua bukanlah "akhir" dari segalanya, mbok akan tetap memperoleh kebahagiannya sendiri walau tanpa suami di dekat mbok, apalagi sekarang mbok sudah memilki dua orang anak, curahkanlah sepenuhnya kebahagian kepada anak-anak, maka sebagai timbal balik mereka pun akan memberikan kebahagian yang bgt besar pula kepada mbok, kalau masih bisa untuk bertahan, janganlah pernah berpikiran untuk kembali ke rumah orang tuanya. Lihat lah si kecil, apa mbok sudah ga ingin melihat canda tawa dan senyum si kecil?. Saya rasa tidak kan?, maka demi si kecil mbok harus mampu untuk bertahan. Karena seorang anak akan lebih bahagia jika selalu ada di dekat ibu kandungnya, bukan dengan ibu tirinya 

Ayu : kenapa cobaan yang berat ini menimpa saya, kenapa orang lain bisa hidup dengan bahagia sedangkan saya tidak, Indi? apa Tuhan tidak adil?

Indi : Tuhan sangat adil, umatnya memperoleh cobaan dan kebahagiaan sesuai dengan karmaphalanya masing-masing, memang kerap kali kita menganggap hidup orangg lain selalu lebih enak/baik dari hidup kita, padahal mungkin saja hidup mereka lebih menderita dari kita, hanya saja mereka tidak mengeluh, mereka selalu mencoba untuk tabah menghadapinya.

Ayu : bagaimana caranya saya agar selalu tegar Indi?

Indi : ambil lah pelajaran dari sekitar kita untuk hidup ini, contoh kita belajar dari bulu ketiak, walaupun hidupnya selalu dihimpit, tapi bulu ketiak selalu tegak bertahan dan selalu tumbuh. Dan ingat untuk selalu bersyukur kpd Beliau. Gelar tikarnya, bakarlah dupa, duduk bersimpuh, lantunkan melodi puja Tri sandya, cakupan tangan dan kemit bunga diujung jemari, bisikan rasa sedihnya, dan rasakan keberadaanNya, bahwa kita tidak pernah menjalani hidup ini sendiri. Suatu saat nanti mbok akan merasakan bahwa semua ini semu, dan suatu saat juga akan menyadari cantiknya jalinan skenarioNya.

Setelah cukup lama berbincang, mereka akhirnya mengucapkan terima kasih dan pamit pergi, sebelum pergi mbok Ayu berkata "Indi boleh ga suatu hari saya ke sini lagi untuk berbincang lagi dng Indi". Aku hanya tersenyum dan mengangkat tangan sambil menunjukkan jempol tanganku.

"OM SHANTI, SHANTI, SHANTI, OM"

oleh  Gede Laksana




STHANA-NYA DEWA SIWA MENURUT NAWA SANGA

" OM SWASTIASTU "

Dewata Nawa Sanga adalah sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin, ini tertera dalam konsep agama Hindu di Bali. Sembilan penguasa tersebut merupakan Dewa Siwa yang dikelilingi oleh delapan aspeknya. Diagram matahari bergambar Dewata Nawa Sanga ini, ditemukan dalam Surya Majapahit yang merupakan lambang kerajaan Majapahit sendiri. 

Nah, yang ingin saya bahas kali ini adalah isi yang menjelaskan bahwa dalam lambang ini Dewa Siwa 
 merupakan penguasa arah tengah (Madya), yang bersenjatakan Padma, wahananya (kendaraan) lembu yang bernama Nandini, ShaktiNya Dewi Parwati/Durga, aksara sucinya "I" dan "Ya", dilambangkan dengan Panca Warna, dan di Bali dia dipuja di Pura Pusering Jagad. Mungkin banyak orang tak mengenal pura ini kan? Yuk kita bahas agar lebih mengenal tentang Pura Pusering Jagat, pura berstananya Dewa Siwa yang letaknya tepat ditengah-tengah Pulau Bali, yang sesuai dengan Dewata Nawa Sanga.



gambar Pura Pusering Jagat

Jika anda berniat untuk melakukan persembahyangan ke pura ini, maka pergilah ke Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar. Pura ini berada di pinggir jalan utama menuju Tampaksiring. Di masa lampau Desa Pejeng merupakan pusat Kerajaan Bali Kuna. Banyak yang menduga bahwa kata "Pejeng" berasal dari kata pajeng yang berarti payung. Dari desa inilah raja-raja Bali Kuna memayungi rakyatnya. Namun, ada juga yang mengartikan bahwa kata "Pejeng" berasal dari kata pajang (bahasa Jawa Kuna) yang berarti sinar. Dipercaya dari sinilah sinar kecemerlangan dipancarkan ke seluruh jagat.

Pura Pusering Jagat adalah salah satu pura penting di Bali dan termasuk satu dari enam pura kahyangan jagat yang berposisi di tengah-tengah. Dalam kosmologi Hindu, tengah adalah sthana (tempat bersemayam) Dewa Siwa. Bagi beberapa orang yang mempelajari sastra menyatakan bahwa di Pura Pusering Jagat lah awal mula kehidupan dan peradaban. Keyakinan itu muncul kemungkinan besar karena Pusering Jagat yang memiliki makna pusat dari semesta.

Dalam isi lontar kuno menjelaskan bahwa Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Pemberian nama itu oleh masyarakat Hindu dikaitkan akan cerita Adi Parwa yang mengisahkan tentang perjuangan para aditya dan ditya dalam mencari tirtha amertha (air kehidupan) di tengah lautan Ksirarnawa.

Akan banyak kita temukan arca-arca yang menunjukkan bahwasanya pura ini adalah tempat pemujaan Dewa Siwa, arca yang terdapat dalam pura ini seperti arca Dewa Ganesha (putra Dewa Siwa), Dewi Durga (Shakti Dewa Siwa), juga arca-arca Bhairawa (salah satu perwujudan Dewa Siwa dalam bentuk yang menakutkan, dihubungkan dengan proses pemusnahan). Terdapat pula arca yang berbentuk kelamin laki-laki (purusa) dan perempuan (pradana) yang kita kenal dengan Lingga. Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Pradana ini adalah ciptaan Tuhan yang pertama. Purusa adalah benih kejiwaan, dan Pradana adalah benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni.

Pada pura ini juga terdapat peninggalan kuno berbentuk bejana yang disebut Sangku Sudamala yang melambangkan limpahan air suci untuk kehidupan. Di dalam sangku sudamala ini terdapat gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251.


gambar Sangku Sudamala

Kutipan Lontar Kusuma Dewa

"Tumurun pwa Bhatara Siwa, angeka pada ring Mahameru tinut denira bhatara kang umungguh ring Watukaru Bhatara Maha Dewa, ring Toh Langkir Bhatara Pasupati, ring Lempuhyang Bhatara Hyang Gnijaya, Ring Gowa Lawah Bhatara Hyang Basuki, ring Pusering Tasik Bhatara Hyang Amangkurat, muangring Uluwatu Bhatara Agni Mahajaya."

Artinya :
Maksudnya: Turunlah Tuhan Siwa membumi di Mahameru diikuti oleh para ewa yang distanakan di Batukaru Batara Maha Dewa, di Gunung Agung Batara Pasupati, di Lempuhyang Batara Hyang Gni Jaya, di Gowa Lawah Batara Hyang Basuki, di Pusering Jagat Batara Amangkurat, dan Uluwatu Batara Agni Maha Jaya (Dewa Rudra).

Pura Pusering Jagat ini tergolong pura yang sangat tua usianya. Di dalam pura ini terdapat banyak peninggalan purbakala. Pura ini dalam Lontar Kusuma Dewa disebut pula dengan nama Pura Pusering Tasik sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan di Bali. Tidak kurang dari sembilan lontar yang ada di Bali menyatakan tentang Sad Kahyangan yang berbeda-beda. Tahun 1979 pernah dilakukan penelitian tentang keberadaan Sad Kahyangan di Bali oleh tim peneliti IHD (sekarang bernama Unhi). Tim peneliti tersebut lalu menetapkan Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa tersebut sebagai Sad Kahyangan di Bali. Hal itu dilakukan karena Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa itu didirikan saat Bali masih bersatu dalam satu kerajaan dengan Mpu Kuturan sebagai Pandita Kerajaan. Setelah Bali menjadi sembilan kerajaan, sepertinya tiap-tiap kerajaan di Bali memiliki Sad Kahyangannya masing-masing. Hal inilah yang menyebabkan adanya beberapa lontar menyatakan adanya Sad Kahyangan yang berbeda-beda.

Dalam Lontar Kusuma Dewa itu Pura Pusering Jagat dinyatakan sebagai tempat pemujaan Batara Amangkurat. Artinya di Pura Pusering Jagat ini Tuhan dipuja sebagai dewa penuntun mereka yang sedang memangku jabatan menata kehidupan rakyat. Penguasa itu akan mengabdi pada yang dikuasai apabila mereka yang berkuasa itu adalah mereka yang memiliki sikap hidup yang religius. Tanpa religiusitas yang kuat penguasa dapat berbuat sewenang-wenang pada rakyat yang dikuasainya. Di Pura Pusering Jagat ini palinggih yang paling utama adalah Palinggih Ratu Pusering Jagat. Di samping itu terdapat palinggih yang disebut Gedong Purusa. Di palinggih ini terdapat simbol Purusa dan Pradana yang digambarkan dengan alat reproduksi laki-laki dan perempuan. Dalam ajaran Samkhya Yoga, Purusa dan Pradana ini adalah ciptaan Tuhan (Iswara) yang pertama. Purusa adalah benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana adalah benih-benih kebendaan. Melalui Purusa dan Pradana inilah Tuhan menciptakan kehidupan yang sejahtera untuk mengisi alam semesta ini. Hal ini juga berarti para penguasa yang memuja Tuhan di Pura Pusering Jagat ini diharapkan mendapatkan kekuatan spiritual untuk menyeimbangkan eksistensi Purusa dan Pradana agar terus bersinergi. Dengan kuatnya sinergi Purusa atau unsur kejiwaan dengan Pradana unsur kebendaan maka akan terciptalah berbagai sumber kehidupan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera lahir batin. Swadharma utama para penguasa rakyat (Sang Amangkurat) adalah mengupayakan terciptanya nilai-nilai kejiwaan dan kebendaan secara berkesinambungan untuk membangun manusia dan masyarakat yang semakin berkualitas. 


gambar Lingga Yoni

Di samping Palinggih Gedong Purusa ada Palinggih Ratu Sidakarya. Palinggih ini sebagai sarana memuja Tuhan untuk menguatkan spiritualitas umat yang memuja Tuhan untuk mencapai keberhasilan dalam kerjanya (sidhakarya). Tujuan memuja Tuhan untuk meningkatkan etos kerja umat dalam menyelenggarakan kehidupannya.

Tujuan pemujaan Tuhan di Pura Sad Kahyangan di Bali memang untuk menegakkan Sad Kerti yaitu Atma Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti. Sad Kerti itu enam upaya untuk menjaga eksistensi kesucian atman, fungsi samudera, hutan, sumber air, sistem sosial dan individu yang solid. Di timur Gedong Purusa terdapat peninggalan kuno berbentuk bejana yang disebut sangku sudamala. Bejana ini sebagai simbol wadah air suci untuk menyucikan hidup manusia. Karena dengan kesucian itulah dharma dapat ditegakkan dalam hidup ini. Di sangku sudamala ini ada gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251. Di sebelah kanan Palinggih Sidakarya terdapat Palinggih Catur Muka. Palinggih ini sebagai media pemujaan Dewa Catur Loka Pala manifestasi Tuhan sebagai pelindung empat arah. Lewat pemujaan Tuhan sebagai Catur Muka yaitu Dewa Iswara, Dewa Brahma, Dewa Maha Dewa dan Dewa Wisnu ini dimohonkan terciptanya sumber-sumber kehidupan berupa rasa aman dan sejahtera di semua penjuru dunia. Hal ini dimaksudkan untuk memohon adanya pemerataan yang adil untuk memperoleh kehidupan yang aman dan sejahtera di semua penjuru, yang mesti diupayakan oleh mereka yang memegang jabatan untuk melayani publik atau jagat.

Sebelum saya akhiri tulisan ini saya ingin bertanya, "sudahkah kita pernah "tangkil" ke mari? kalau anda baktha Dewa Siwa setidaknya pernah bersembahyang ke Pura Pusering Jagat yach!! 😉😉😉



Disadur dari berbagai sumber

oleh  Gede Laksana


" OM SHANTI, SHANTI, SHANTI, OM "







Thursday, 27 April 2017

TULASI

" OM SWASTIASTU "

Diceritakan bahwa suatu ketika Dewa Indra dan Dewi Saci sedang menikmati keindahan alam dengan berkeliling di angkasa menaiki Airawata, sampai akhirnya Beliau melintasi pegunungan Kailasa tempat bersemayamnya Dewa Siwa yang kebetulan waktu itu sedang bersemadi.

Dewi Parwati (Shakti dari Dewa Siwa) pada waktu itu  sedang melepas anak panah dan secara tak sengaja mengenai Airawata sehingga jatuh Beliau pun jatuh terjerembab. Dewa Indra lalu menjadi murka sehingga dikeluarkanlah senjata pemungkas yang bernama Bajra, sebuah panah sakti berupa tulang kerangka dan melemparnya ke arah Dewa Siwa yang tak terlihat karena sedang bersemadi sampai tubuhnya tertutupi oleh salju. Terusik akan senjata Dewa Indra tersebut, Dewa Siwa sangat marah dan mengembalikan senjata tersebut kepada pengirimnya, sehingga membuat badan Dewa Indra hitam terbakar. Melihat kejadian ini, kemudian Dewi Parwati dan para Dewa memohon ampun kepada Dewa Siwa atas terjadinya kesalahpahaman ini, namun Dewa Siwa kemarahannya tidak bisa dipadamkan sehingga dari Tri Netra-Nya keluarlah sinar putih menyilaukan, dan terjadilah suatu bencana yang menyebabkan lautan api di darat dan samudera. Tiba-tiba dari kedalaman samudra munculah seorang anak kecil yang lahir akibat kemarahan Dewa Siwa sendiri, yang mana anak ini kemudian di pungut oleh Dewa Baruna (Dewa Penguasa Laut), dan kemudian diserahkan kepada Dewa Brahma (kelak anak ini bernama Jalandara).

Di hadapan Resi Narada, lalu Dewa Ganesha (Bhatara Gana) kemudian memberikan ramalan-ramalan tentang Jalandara di masa mendatang, isi dari ramalan itu menyatakan bahwa anak ini akan menjadi seorang ksatria gagah perkasa tetapi memiliki sifat angkara murka karena hasutan dari Kala Rahu (raksasa yang hanya kepala saja tanpa badan). Namun semuanya ini sebenarnya adalah takdir dari Sri Visnu (Narayana), karena itulah kemudian Sri Visnu mengutus Rsi Narada datang kepada sebuah kerajaan yang memiliki seorang putri bernama Dewi Vrinda.

Dikisahkan Vrinda Dewi dibawah bimbingan langsung Dewa Rsi Narada Muni, dibina menjadi abdi Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sri Visnu. Vrinda Dewi diberikan hadiah sebuah arca Sri Visnu yang kemudian dilayaninya dengan sangat serius. Nama Sri Visnu betul-betul sudah terpatri di dalam hatinya.

Pada suatu ketika di sebuah taman Dewi Vrnda sedang diganggu oleh sepasang raksasa dan bertepatan waktu dengan kedatangan Jalandara di tempat itu, Dewi Vrinda pun diselamatkan. Jalandara yang kemudian menjadi terpikat akan kecantikan sang putri akhirnya menikahinya.

Karena pengaruh provokator dari raksasa yang bernama Kala Rahu, Jalandara menjadi jahat dan suka mengganggu para dewata di kahyangan. Pertama yang menjadi sasarannya adalah Dewa Indra, pertempuran pun terjadi dan Dewa Indra berhasil dikalahkan, sehingga istrinya yang bernama Dewi Saci disandera dan akan dijadikan selirnya. Dewi Vrinda sudah berulang kali mengingatkan suaminya agar tidak mengganggu para dewa, namun malah dia sendiri kerap disiksa, tapi karena saking setia terhadap suaminya dan demi tidak melihat kelaliman suaminya dia membutakan matanya sendiri. Suaminya tidak perduli akan hal itu, dan malah memenjarakan dan meninggalkannya pergi bersama wanita lain sambil mabuk-mabukan.

Namun karena bhaktinya kepada Sri Visnu arcaNya pun kemudian menyelamatkannya. Sasaran berikutnya adalah Sri Visnu, pertempuran terjadi. Sebenarnya rahasia dibalik kesaktian Jalandara adalah pada istrinya yang selalu tekun memuja Sri Visnu, bukan karena kesaktian yang dimiliki oleh Jalandara sendiri. Namun Jalandara yang tidak mengetahui hal ini, justru malah menghancurkan arca pujaan istrinya, namun arca Sri Visnu utuh kembali agar tetap bisa dipuja oleh Dewi Vrnda. Dewi Vrinda yang mengetahui bahwa suaminya sedang pergi berperang dengan Sri Visnu yaitu pujaanNya, tetap berdoa pada Sri Visnu agar suaminya tetap jaya menang dalam peperangan.

Ini adalah filsafat yang sangat dalam, bahwa Sri Visnu bertempur melawan kekuatan bhakti terhadap diri Beliau sendiri. Akhirnya demi doa penyembahNya yang setia maka Beliaupun mengalah. Karena Jalandara dapat merasa mengalahkan Sri Visnu dia menjadi semakin sombong, dia berpikir bahwa dirinya sangat sakti sehingga para dewa bisa ditaklukkannya, dia masih tak menyadari padahal semuanya ini terjadi karena kekuatan istrinya yang selalu setia mengabdi kepada Sri Visnu.

Sasaran berikutnya adalah Dewa Siva, dikarenakan permaisuri/Shakti beliau yaitu Dewi Parvati sangat dicintai oleh Jalandara. Pertempuranpun terjadi, dan Dewa Siva masih terus bertempur seimbang dengan Jalandara, ini dikarenakan kekuatan istri Jalandara yang selalu tekun memuja Sri Visnu sehingga suaminya selalu dalam perlindungan Tuhan. 

Di kahyangan para dewa sedang melaksanakan rapat untuk mencari jalan keluar, bagaimana caranya agar bisa mengalahkan Jalandara yang sangat hebat, dan selalu membikin onar, serta huru-hara di kahyangan.

Diceritakan Sri Visnu pun segera turun tangan, sebab kekuatan Jalandara bersumber pada karunia Sri Visnu terhadap Dewi Vrnda, sehingga Jalandara tidak bisa dikalahkan. Akhirnya Sri Visnu turun ke dunia menjelma menjadi seorang Guru Suci dan Garuda kendaraan Sri Visnu menjelma menjadi sisya/murid yang melayani Guru Suci. Dikabarkan bahwa Guru Suci ini bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal.

Vrnda Dewi yang mendengar berita bahwa suaminya telah tewas dalam pertempuran, untuk itu dia bermaksud minta tolong kepada sang Guru agar bisa menghidupkan suaminya. Akhirnya Sang Guru menciptakan Jalandara palsu yang tidak lain penjelmaan diriNya sendiri. Jadi Jalandara yang berada dihadapan Dewi Vrnda adalah Sri Visnu sendiri (suami palsu Dewi Vrnda). Tujuan Sri Visnu berbuat demikian untuk menghancurkan kesetiaan Dewi Vrinda terhadap suaminya yang asli, yang sebenarnya masih hidup dan sedang bertempur melawan Dewa Siwa. Ini semua adalah rekayasa Sri Visnu untuk bisa mengalahkan Jalandara (dan perlu diketahui tidak ada di CD ataupun dijelaskan pada kitab Padma Purana, Sri Visnu bermaksud melunasi janjinya kepada Vrnda Devi, sebab dalam kehidupan sebelumnya Vrnda Dewi pernah melakukan pertapaan yang sangat keras agar dapat menjadikan Sri Visnu sebagai suaminya, dan pada waktu itu Dewa Brahma sebagai utusan Sri Visnu menyampaikan bahwa Sri Visnu berjanji akan mengabulkan permintaanya dalam kehidupannya yang akan datang. Dan sekaranglah saatnya tiba, namun ini semua tanpa sepengetahuan Vrnda Dewi, sebab seseorang yang telah menggantikan badan sebagai mahluk individual seperti Vrnda Dewi akan lupa dengan masa kehidupan sebelumnya).

Dewi Vrnda karena sibuk melayani suami palsunya hingga tidak mendoakan lagi suaminya yang sedang bertempur dengan Dewa Siwa, maka Jalandara mengalami kekalahan dan kepalanya dipenggal oleh Dewa Siwa dengan senjata TrisulaNya. Jalandara kalah karena Dewi Vrnda sudah tidak setia lagi terhadap suaminya. Kepala Jalandara terus melayang mencari keberadaan Dewi Vrnda dan akhirnya jatuh di depan Dewi Vrnda. Setelah ditemukan kepala itu kemudian terkuaklah semua bahwa Jalandara yang berada disampingnya adalah palsu dan yang asli telah mati.

Dewi Vrnda tidak menerima kenyataan bahwa suaminya telah terbunuh, akhirnya dia pun mengutuk Sri Visnu menjadi patung. Karena dikutuk oleh penyembahNya, Sri Visnu pun menerima kutukan itu. (Demikian dijelaskan dalam kitab Veda bahwa Tuhan akan selalu mengabulkan permintaan penyembahNya yang agung, dengan kata lain Tuhan bisa ditaklukkan/dikendalikan oleh sikap bhakti penyembah-Nya yang tulus). Permaisuri Sri Visnu yaitu Dewi Laksmi seketika itu pula kehilangan mahkota dan semua perhiasannya, dan setelah mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi kemudian minta ampun kepada Dewi Vrnda. Lalu Dewa Siwa, Dewa Brahma yang diiringi oleh para dewa lainnya semua hadir disana karena terharu melihat Sri Visnu menjadi sebuah patung (arca Visnu berwarna hitam pekat) karena telah menerima kutukan penyembahnya. Inilah permainan rohani/lila Tuhan yang sulit dipahami (acintya).

Namun kemudian Vrnda dewi menyadari kesalahan suaminya sehingga kemudian kutukannya dicabut dan Sri Visnu kembali seperti biasa. Karena kesetiaan Dewi Vrnda terhadap suaminya, maka sang dewi langsung membakar dirinya dengan memanggil Dewa Agni (dewa api). Para dewa menjadi terharu melihat kesetiaan Dewi Vrnda walaupun suaminya sangat jahat dan sering menyiksanya. Dewi Vrnda akhirnya menjadi abu. Sri Visnu, Dewa Siwa dan para dewa lainnya bersedih, semua memeluk abu Dewi Vrnda dan mengusapkan ke badanNya karena Dewi Vrnda adalah lambang bhakti sehingga disebut Dewi Bhakti.

Sri Visnu kemudian memberikan anugerah, dan menjadikan Dewi Vrnda sebagai pohon Tulasi sebagai penjelmaan Dewi Bhakti, demikian pula Sri Visnu kemudian menjelmakan diri Beliau sebagai sebuah batu hitam yang disebut Saligram Sila. Perkimpoan ini disebut Tulasi Saligram Sila Wiwaha (perayaannya diadakan setiap tahun sampai sekarang). Dikatakan didalam kitab suci Veda (sumber Padma Purana) barang siapa yang menanam/menyiram atau memuja pohon Tulasi dengan khusuk dan mempersembahkan daun Tulasi kepada Dewa Wisnu akan dibebaskan dari segala reaksi dosa dan dimungkinkan mencapai kemajuan bhakti yang murni kepada Tuhan. (Daun Tulasi hanya dipersembahkan kepada Sri Visnu /Narayana atau segala perwujudanNya, tidak boleh dipersembahkan kepada dewa lainnya, terutama tidak kepada Dewa Ganesha).

Pesan Penulis

Filsafat yang dapat kita ambil ari cerita di atas, bahwa di mana ada kesetiaan seorang istri terhadap suaminya, dan ketekunan bersembahyang, maka disana akan ada kejayaan. Sebaliknya dimana ada ketidaksetiaan seorang istri terhadap suaminya, maka di sana hanya akan ada kehancuran, ini adalah hal nyata.

Jangan pernah menjadi sombong akan kemampuan-kemampuan yang kita miliki, karena itu semua cuma titipan, dan bisa saja itu adalah anugerah dariNya atas permohonan dan doa seseorang untuk kita, maka dari itu sering-seringlah bercermin

Di sadur dari Padma Purana

oleh  Gede Laksana

" OM SHANTI, SHANTI, SHANTI, OM "






Tuesday, 25 April 2017

KUMBAKARNA

"OM SWASTIASTU"

Dahulu aku pernah diceritakan tentang salah satu tokoh pewayangan, seorang raksasa yang tinggi besar tapi berjiwa patriot, namanya adalah Kumbakarna. Dia anak kedua dari 4 bersaudara. Yang pertama bernama Rahwana, kedua Kumbakarna, ketiga Sarpakenaka, dan keempat adalah Wibhisana.

Yang akan saya ceritakan kali ini adalah tentang Kumbakarna, putra kedua dari Rsi Wisrawa dengan Kekasi (putri Raja Detya Sumali). Arti nama Kumbakarna adalah Kumba berarti kendi/tempayan, sedangkan Karna berarti telinga. Dia diberi nama ini dikarenakan memiliki telinga yang besar dan lebar. Kumbakarna juga seorang raksasa yang sangat sakti karena anugerah dari Dewa Brahma. Kegemarannya adalah tidur, sekali dia tertidur bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan dan akan sulit untuk dibangunkan.

Saat perang dharma melawan adharma antara Rama dan Rahwana, satu persatu panglima Kerajaan Alengka terbunuh (Alengka adalah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Rahwana sendiri). Maka Rahwana memerintahkan anaknya Indrajit untuk memanggil pamannya yaitu Kumbakarna agar segera menghadap. Ketika bertemu dengan pamannya yang sedang tertidur pulas, Indrajit kewalahan untuk membangunkan pamannya, akhirnya dicabutlah bulu kaki pamannya sehingga membuatnya terjaga dari tidur. Lalu diantarlah pamannya menghadap sang ayah ke istana.
Tiba di istana, Kumbakarna dijamu dengan sangat meriah. Hidangan yang beraneka ragam disajikan. Dia pun melahap semuanya. Setelah selesai menyantap semua, Rahwana mengutarakan maksudnya agar Kumbakarna tampil ke medan perang membela sang kakak. Kumbakarna yang berjiwa jujur menolak mentah-mentah perintah kakaknya, bahkan dia juga menasehati kakaknya agar menyerahkan Dewi Sinta kembali ke Sri Rama, karena dia sadar apa yang telah dilakukan kakaknya adalah salah. Menengar hal itu Rahwana marah dan mencaci maki Kumbakarna, dia juga menghardik bahwa Kumbakarna tak tahu balas budi terhadap kebaikan Rahwana dengan menyajikan aneka makanan (lege seluk). Mendengar hal ini, dengan kesaktiannya Kumbakarna memuntahkan kembali dan mengembalikan seperti semula apa yang telah dimakannya. Lalu dia berkata, "Aku akan maju ke medan perang bukan untuk membela kakak, tapi kehadiranku ke medan perang semata-mata untuk membela negeriku dari ancaman musuh yang menyerang. Andaikata aku mati, maka aku akan dikenang sebagai Kumbakarna seorang ksatria, bukan seorang adik yang membela kakaknya yang penuh angkara murka." Lalu dia pun tampil ke medan laga dengan gagah berani.

Wibisana yang memihak kubu Rama, melihat kakak keduanya tampil sendirian ke medan tempur. Lalu dia menghampiri dan mencoba menasehati Kumbakarna. Tapi Kumbakarna tetap bersikukuh akan membela negerinya sampai mati dari ancaman penyerbu, Wibisana sadar kakaknya seorang yang teguh memegang kata-kata dan dia hanya bisa memeluk sang kakak dan meneteskan air mata, lalu menghindar dari tengah pertempuran.

Pertempuran pun dimulai, banyak wanara yang mencoba melawan Kumbakarna tapi semuanya gagal. Panglima-panglima perang mencoba berbagai cara mengalahkan Kumbakarna mulai dari Sugriwa, Anggada, Nila dan Anoman namun masih juga merasa kesulitan mengalahkannya. Semua pasukan wanara dikalahkan dengan tangan kosong dan semburan api dari mulut Kumbakarna. Pasukan wanara mencoba menyerang raksasa yang begitu besar itu secara bersamaan, namun dengan mudahnya semuanya dipentalkannya. Melihat kesaktian itu akhirnya Sri Rama turun tangan, dengan panah saktinya dipotonglah kedua lengan Kumbakarna. Walau kehilangan kedua lengan, Kumbakarna masih melakukan perlawanan, dia menginjak-nginjak pasukan wanara dengan kakinya. Melihat hal tersebut, Sri Rama kembali melesatkan panahnya dan memotong kedua kaki Kumbakarna dari badannya. Bukannya segera menemui ajal, Kumbakarna tetap melakukan serangan dengan cara berguling dan menyemburkan api dari mulutnya. Sri Rama merasa kagum melihat kegigihan dan daya juangnya. Karena tak tega melihat penderitaan Kumbakarna lebih lama, akhirnya dilepaskanlah sebuah panah sakti ke arah tenggorokan, sehingga kepala Kumbakarna terlepasa dari badan dan segera menemui ajal. Melihat kakaknya gugur Wibisana hanya bisa bersedih, dia begitu merasa kehilangan kakak yang sangat dia cintai, seorang ksatria yang jujur dan patriotik telah gugur di medan tempur. Kerajaan Alengka kini telah kehilangan sosok terbaiknya.

Pesan Penulis

Walau hidup dilingkungan yang penuh keangkara-murkaan setidaknya kita tetap mampu berpikir secara rasional. Mari pertahankan sifat berani, pantang menyerah, dan rela berkorban demi bangsa dan negara, Memang berat dirasa, tapi sekecil apapun usaha mu untuk mewujudkan itu maka sifat patriotisme telah tumbuh dalam dirimu. Sifat ini tumbuh dari rasa cinta, rasa kecintaan akan tanah air, perjuangkan, tebarkan, dan rasakan (Gede Laksana 25/04/2017)

Apapun yang pernah kita berikan kepada seseorang janganlah pernah disinggung kembali, belajarlah untuk selalu ikhlas, karena keikhlasan memancarkan berjuta-juta kilauan sinar, walau ribuan mata tak melihatnya. (Gede Laksana25/04/2017)


"OM SHANTI, SHANTI, SHANTI, OM"







PILIH MERTA ATAU AMERTA?

" OM SWASTIASTU "

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "salah kaprah" adalah kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai sebuah kesalahan. Menjadi umum karena kesalahan itu telah melalui proses pemakaian yang luas.

Pada suatu sore aku dan teman-teman bersembahyang ke sebuah pura. Dalam doa nya aku mendengar sebuah kalimat permohonan, "titiang nunas merta". Mendengar hal ini aku sedikit kaget, ingin ku bertanya tapi kuurungkan niatku karena masih dalam prosesi persembahyangan. Selesai sembahyang dan kita sudah berada di jaba pura, akupun menanyakan tentang hal itu kepada teman-temanku. Dan semua jawaban teman-temanku tentang maksud dari "titiang nunas merta" adalah "titiang nunas keselamatan". Lalu akupun mencoba untuk menjelaskan semampuku.

Sampai di rumah aku kembali bertanya tentang makna dari "merta", yang kebetulan om dan tante juga hadir di sana tuk berkunjung. Dari jawaban mereka, rata-rata sama dengan jawaban teman-temanku. Ternyata karena sudah melalui proses pemakaian yang begitu luas kata "merta" ini banyak yang tidak menyadari kekeliruannya. Dengan segala hormat tanpa maksud menggurui aku lalu mencoba untuk menjelaskannya kembali ditengah berkumpulnya keluarga dari ayahku.

Yuk sama-sama belajar, agar mengerti tentang makna dari kata "merta". "Merta" ini berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti "mati/maut". Jadi jika kita menyebutkan kalimat ini dalam doa "titiang nunas merta" bukankah kita sebenarnya memohon kematian dengan segera? Apa kalian yakin? 😄. Walau semua ini adalah pinjaman, tapi kalau boleh aku pribadi sih, enggak dulu deh karena masih banyak yang harus aku lakukan.

Terus bagaimana cara mengganti kata 
"mati" dalam sebuah ucapan doa? Ya, tambahkan sebuah huruf "A" hingga menjadi kata "Amerta" yang berarti minuman para Dewa yang dihasilkan dari pengadukan samudera. Atau kata "Amerta" secara harafiah artinya adalah "ke-tidak-mati-an" atau "kehidupan". Nah sekarang yang mana akan kita pakai dalam ucapan doa kita? Silahkan pembaca yang memutuskannya sendiri.

"OM SHANTI, SHANTI, SHANTI, OM"





Sunday, 23 April 2017

ASTUNGKARA, SWAHA, DAN TATHASTU

" OM SWASTIASTU "

Ini kata-kata yang kerap diucapkan saudara-saudara kita di Bali pada khususnya. Pernah kata ini aku tanyakan kepada seorang teman yang sering menyebutkannya. Lalu setelah aku tanyakan apa artinya ia malah bilang tak tahu. Di sini sudah ku rangkum sedemikian rupa dari berbagai sumber, yang mana semoga bermanfaat bagi yang telah membacanya.

Kata "Astungkara" berasal dari kata "Astu" dan "Kara", yang kemudian memperoleh sisipan "ng". "Astu" berarti "semoga terjadi" dan "Kara" yang berarti "penyebab", dan kata penyebab dalam hal ini merujuk kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi bisa disimpulkan bahwa "Astungkara" berarti semoga terjadi atas kehendak-Nya.

"Swaha" di sini adalah nama dari permaisuri dewa Agni (dewa api). "Swaha" berarti "sebuah yel - yel rohani dan juga berarti semoga diberkati". "Swaha" biasanya ucapan yang umumnya diucapkan di akhir sebuah mantra. Seperti kata "OM" yang diucapkan di awal mantra, sedangkan kata "Swaha" diucapkan pada akhir mantra.

"Tathastu" berasal dari kata "Tat" dan "Astu". "Tat" berarti itu, kata "itu" merujuk pada doa atau permohonan yang diucapkan, sedangkan "Astu" berarti "semoga terjadi". Jadi "Tathastu" berarti "terjadilah seperti itu"

Saat kapan sebaiknya menggunakan kata Astungkara, Svaha dan Tathastu???

 1)  Astungkara diucapkan saat kita sedang menyampaikan mengucapkan harapan, keinginan dan doa pribadi kita. Contoh ; “Astungkara perjalanan saya nanti berjalan lancar dan selamat”

2) Svaha diucapkan di akhir pengucapan sebuah mantra suci, setiap menghaturkan persembahan atau setiap menuangkan persembahan ke dalam api suci. Contoh ; “Om Namah Sivaya, Svaha !”.

3) Tathastu diucapkan untuk meng-amini atau untuk ikut mendoakan apa yang menjadi harapan dan doa orang lain. Contoh ; 

Wayan  : “Astungkara, tahun depan saya bisa lulus S2”.

 Made   : “ Tathastu”.

" OM SHANTI, SHANTI, SHANTI, OM "

Tulisan ini disadur dari berbagai sumber







PANGANJALI

"OM SWASTIASTU" merupakan salam pembuka yang biasa diberikan oleh orang bali kepada seseorang yang ditemuinya. Dan saat ini umat Hindu di Indonesia, kalau saling berjumpa dengan sesamanya, umumnya mengucapkan "OM SWASTIASTU". Salam umat ini sekarang telah menjadi salam resmi dalam sidang-sidang Dewan Perwakilan maupun pertemuan resmi lainnya, adapun maksud dari salam tersebut adalah sapaan sekaligus doa untuk lawan bicara agar orang tersebut selalu diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa. 

Adapun penjelasan mengenai kata tersebut, dapat dilihat dari percakapan Rsi Dharmakerti dengan Sang Suyasa. Setelah Sang Suyasa memperbaiki cara duduknya, maka dimulailah percakapan mereka. 

-  Rsi Dharmakertipun : “Anakku, tadi anakku mengucapkan panganjali “OM SWASTIASTU" Tahukah ananda apa artinya?

-  Sang Suyasa : " Belum guru".

-  Rsi Dharmakerti : " Jika belum, dengarlah dengan seksma ! "OM" adalah aksara suci untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Nanti akan Guru terangkan lebih lanjut. Kata "SWASTIASTU" terdiri dari kata-kata Sansekerta yaitu SU + ASTI + ASTU, "Su" artinya baik, "ASTI" artinya adalah, "ASTU" artinya mudah-mudahan. Jadi arti keseluruhan OM SWASTIASTU ialah “Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa”. Kata SWASTIASTU ini berhubungan erat dengan simbol suci Agama kita, yaitu "SWASTIKA" yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan Buana Agung (Makrokosmos) dan Buana Alit (Mikrokosmos). Bentuk Swastika ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan galaksi atau kumpulan bintang-bintang di cakrawala yang merupakan dasar kekuatan dari perputaran alam ini. Keadaan alam ini sudah diketahui oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala dan lambang Swastika ini telah ada beribu-ribu tahun sebelum masehi. Dan dengan ucapan panganjali "OM SWASTIASTU" itu anakku sebenarnya kita sudah memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi yang menguasai seluruh alam semesta ini. Dan dari bentuk Swastika itu timbullah bentuk Padma (teratai) yang berdaun bunga delapan (asta dala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian dan kedamaian abadi. 

-   Sang Suyasa : Oh Gurunda, maafkan kalau hamba memotong. Hamba tidak mengira demikian luas maksud dari ucapan panganjali atau penghormatan hamba tadi itu. Betul-betul hamba tidak tahu artinya. Hamba hanya mendengar demikian, lalu hamba ikut-ikutan saja. 

-  Rsi Dharmakerti : Memanglah demikian tinggi nilai dari ajaran Agama kita ananda. Guru gembira bahwa ananda senang mendengarnya. Ingatkah ananda apa yang Guru pakai untuk menjawab ucapan panganjali itu?

-   Sang Suyasa : Guru membalas dengan mengucapkan kata "OM SHANTI, SHANTI, SHANTI". Tapi hamba tak tahu artinya.

-   Rsi Dharmakerti :  Tidak mengapa ananda, Guru akan jelaskan bahwa arti kata OM SHANTI, SHANTI, SHANTI itu ialah: Semoga damai atas karunia Hyang Widhi”. Shanti artinya damai. Dan jawaban ini hanya diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Sedangkan balasan atau sambutan yang diberikan atas panganjali “OM SWASTIASTU” dari orang sebaya, atau dari orang yang lebih tua cukuplah dengan membalas dengan mengucapkan "OM SWASTIASTU" yaitu sama-sama mendoakan semoga selamat. Jadi hanya yang lebih tua patut memakai "OM SHANTI, SHANTI, SHANTI"  terhadap yang lebih muda. Atau dipakai juga untuk menutup suatu uraian atau tulisan. 

Sumber : http://cakepane.blogspot.com/2010/03/om-swastiastu-salam-sekaligus-doa.html







Thursday, 20 April 2017

Mr. and Mrs. UNIVERSE

" OM SWASTI ASTU "


Sebelum anda melanjutkan membaca "cerita" ini, yang merasa kurang yakin, lebih baik jangan melanjutkannya, karena kontens cerita ini tidak akan ada pembuktian untuk meyakinkan bahwa ini pernah terjadi. Tetapi jika anda tetap bersikukuh untuk membacanya hingga akhir berarti anda siap "dibingungkan" oleh isi nya, "Suksma"

Saya panjatkan puja dan puji kehadapanMu, mohon perlindungan dan ijinmu untuk mencoba menceritakan kisah perjalanan gaib ini

Om Gam Ganapatayae Namaha
Om Dum Durgayai Namaha
Om Namah Siwa Ya

Kisah ini berawal pada saat aku msh SMP kls 3 dulu, berkisar antara jam 5-6 sore tiba2 rasa kantuk menyerangku, lalu aq ke kamar dan merebahkan badan, setelah memejamkan mata tiba2 ada sebuah cahaya putih yg menyedot diriku terbang ke atas, cukup lama aku dalam cahaya tersebut hingga akhirnya aku sampai di sebuah pura.

Tiba-tiba dari arah belakangku seorang nenek yang berwajah mengerikan menghampiri, dengan hidung yang panjang melengkung ke depan menyapaku "selamat datang silahkan ikuti saya". Aku mengikuti nenek tersebut masuk ke halaman pura, sebelum masuk kesana, kuperhatikan pura tersebut "wah kayaknya aku sudah beberapa kali ke pura ini, ya benar pura ini sudah tak asing lagi bagiku". 

Ketika kaki kananku melewati candi bentar, tiba-tiba pemandangan pura itu berubah seketika. Kini telah berdiri istanaatau lebih tepatnya seperti sebuah kerajaan yang sangat megah dan mempunyai banyak pintu masuk berupa bangunan mirip candi bentar. Di halaman itu aku lihat banyak orang berlalu lalang, baik laki atau perempuan, dan semua mengenakan kamen putih se-dada, tapi yang membedakan adalah yang laki memakai ikat kepala mirip "udeng", dan yang perempuan memakai seutas kain putih. 

Aku teliti dengan seksma ada yang "metanding", "megamelan", "ngalap bunga" dan banyak lagi, tapi anehnya tak satu pun orang-orang disana yang mengeluarkan sepatah kata, aku dibuat heran dengan itu semua.

Kami berjalan ke sebuah candi, nenek itu menyuruhku untuk menunggu di tempat aku berdiri, lalu dia mendekati penjaga pintu yang saya lihat rupa nya mirip seperti raksasa dalam cerita, membawa gada berduri. Setelah di ijinkan, lalu kami memasuki candi bentar, lagi-lagi keanehan terjadi, setelah memasuki candi itu pemandangan lagi-lagi berubah. Saya lihat kesemuanya berupa daratan yang sangat luas, "gubuk-gubuk" berdiri berjejer. 

Nenek itu pun berkata "sekarang, pilih tanah mana yang akan kamu gunakan untuk tempat tinggalmu?!." Saya terkejut dan berkata "saya ga mau tinggal disini, tolong kembalikan saya ke tempat orang tuaku" sambil menangis sesengukan. Sebelum nenek itu membalas perkataanku tiba-tiba hadir raksasa/bhuta/apapun namanya saya tak tau, wujudnya sangat aneh dan mnyeramkan, kepalanya yang harusnya di atas tapi ada di kelamin, begitu juga sebaliknya. Taringnya panjang, lidahnya menjulur, matanya mendelik kaya hampir keluar. Lalu dia berbicara dengan nenek tersebut. Setelah itu dia berkata kepada ku "ikuti saya, dan pegang tanganku".

Ku pegang tangannya, dalam sekejap aku sudah berada di sebuah kuil sendirian. Aku dengar suara menggelegar, aku pun mencoba keluar dan kulihat raksasa yang sangat besar. Dia meneriakkan namaku sambil tangannya tak henti-hentinya meraup orang-orang yang coba berlari menghindar ketakutan dan memakannya. 

Karena takut aku pun sembunyi. Tiba-tiba seorang kakek berjenggot putih selutut datang dan berkata, "nak, klo kamu tidak berkorban dan menjadi makanan raksasa tersebut maka makin banyak orang yang akan dikorbankan". Mendengar hal itu aku lalu memutuskn untuk mengalah. Aku pun berlari mendekati raksasa yang sangat mengerikan itu. Tiba-tiba tangannya menggenggam badanku dan mengangkat lalu mengarahkan ke mulutnya yang begitu besar. Ketika aku terjatuh dan mulai memasuki mulutnya tiba-tiba ada kekuatan yang menyedotku, sehingga aku kini berada di dalam goa es yang dipenuhi makhluk-makhluk aneh dan mengerikan lainnya, yang sedang duduk berjejer. Aku melihat sekeliling, di depan ada sebuah gundukan es yang cukup besar, diatasnya terbentang kulit macan dengan kepala macan mnghadap ke depan. Kuarahkan pandangan ke samping kiri, ku lihat "Idola" ku memegang senjataNya berdiri menghadap sebuah tembok es yang menampilkan gambar mirip seperti tv, dalam gambar itu ku lihat raksasa tersebut sedang memakan sebuah "gedebong pisang" yg bentuknya menyerupai aku.

Setelah menelannya keajaiban pun terjadi, raksasa itu berubah wujud menjadi wanita yang sangat cantik, wanita itu lalu lenyap dan yang lebih mengejutkan, tiba-tiba "Dia" sudah berada di depan, duduk di atas kulit macan, kupandang wajahnya, "ya Tuhan aku belum pernah melihat wanita secantik ini seumur hidupku" pikirku. Wajahnya cantik, gaya duduknya begitu anggun, berwibawa, dan memancarkan aura keibuan, intinya sukar dilukiskan dengan kata-kata. Dia tersenyum padaku dan berkata "akhirnya engkau hadir juga disini nak" kataNya. Sebelum aku membalas ucapannya, Sang "Idola" berjalan mendekat dan duduk di sebelah wanita tersebut. 

Aku pun bertanya "maaf Anda siapa? dimana saya? dan mengapa saya disini?" Beliau memanggilku dan memerintahkan aku duduk dipangkuanNya, lalu berkata "Aku dipanggil dengan banyak nama...(sambil menyebutkan nama-nama suci Beliau, sengaja aku tak lampirkan, maaf). Akulah Ibu dari alam semesta ini, tapi kamu cukup memanggilku dengan sebutan "Ibu".

Aku mengangguk, terus Ibu melanjutkan lagi perkataanNya "kamu berada di kediaman Kami, kedatangan mu sendiri kemari tak terlepas dari karma terdahulu mu sendiri. Aku akan menganugerahimu rahasia reinkarnasi hidup". Sambil bercerita Ibu menyisir rambutku dengan jariNya, kadang mengelusnya. Setelah itu "Ibu" bercerita semua, dari reinkarnasi ku terdahulu, yang sekarang, dan yang akan datang, tapi aku tak mampu mengingatnya semua.

Setelah itu "Mr. Universe" juga bersabda "Aku akan mengajarkanmu cara menghidupkn "Astra" yang akan berguna nanti dalam tugasmu. Juga sebagai anugrah, Aku berkenan menceritakan tentang evolusi alam semesta ini". 

Aku berada di sana tak tau berapa lama, karena tidak pernah ku lihat malam, selalu terang. Di sana sambil belajar tentang Astra dan tentanng hidup.

Suatu ketika Beliau berdua memanggilku, dan berkata "waktumu sudah cukup disini, sekarang kembalilah ke dunia mu". Aku membalas "tapi hamba kan sudah...............ahh.....ahh...." Beliau berdua mengangkat tangan lalu keluar sinar putih yang mendorongku jatuh ke bawah terus...... terus..... dan cukup lama aku terombang-ambing dalam cahaya putih tersebut.

Aku membuka mataku perlahan "kulihat selembar kain putih menutupi muka dan seluruh tubuhku". Tiba-tiba aku mulai merasakan sekujur tubuhku begitu dingin dan basah. Aku mencoba menggerakan seluruh tubuh, tapi tetap tak bisa. Tiba-tiba entah kekuatan dari mana mampu bangkit dan terduduk. Aku duduk sebentar lalu keluar dari tempat tidur es ku yang dikelilingi korden putih.

Orang-orang pada berlari keluar ketakutan, aku heran kenapa mereka berlari menjauhiku? Dan kenapa aku telanjang tanpa sehelai benang pun? pikirku. Kulihat di depan bapak dan paman ku duduk bersila dengan wajah sedikit ketakutan. 

Aku masih juga terheran-heran, mengapa semua berpakaian adat?. Ada apa sebenarnya?. Bapak menghampiri dan melilitkan handuk. Lalu mengajakku ke kamar untuk berpakaian. Setelah berpakaian, aku diam cukup lama dikamar, akhirnya bapak bercerita bahwa aku sebenarnya telah "mati suri selama 2 hari". Kupeluk bapak sambil memukul pelan dada nya, "bapak tega mengira aku sudah mati, bapak ga tahu aku tuh sangat ketakutan disana huuuu....huuuuu..." tangisku pilu. Setelah istirahat cukup lama malamnya keluargaku pad datang dan bertanya-tanya.

Dan sejak saat itu banyak hal-hal diluar akal sehat yang aku alami, tak mampu aku katakan, dan tidak akan mampu dijelaskan serta dimengerti. Tapi aku tetap bersyukur, karena aku diberikan pengalaman-pengalaman unik yang hanya akan menjadi kenangan pribadiku. Semoga dengan cerita ini banyak orang yang mampu memetik pelajaran yang terselip di dalamnya. Jikalau ada kata-kata yang tak berkenan mohon dimaafkan. Serta cerita diatas telah di edit sedemikian rupa untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Suksma. Menutup cerita ini izinkn saya mengucapkan japa mantram :

Gam Ganapatayae Namaha
Dum Durgayai Namaha
Namah Siwa Ya

" OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM "


oleh Gede Laksana





UDENG

" OM SWASTIASTU " Tata busana orang-orang Bali ketika melaksanakan suatu upacara atau kegiatan keagamaan memiliki ciri-ciri ...